[utama] Alquran | Hadis Qudsi | Hadis Shahih Bukhari dan Muslim |Doa
[Kami] Kontak | Visi & Misi | Iklan | Link Bersama Kami
[ukhuwah] Webmail| Milis | Buku Tamu
HOME
Wanita Bertanya Ulama Menjawab
Uneq-Uneq
Resep
Profil Muslimah
Oase Ilmu
Muslimah & Media
Kisah Nabi
Kiat Muslimah
Jurnal Muslimah
Cantik & Sehat
Bisnis Muslimah
Agenda Muslimah

As Tears Dry Out
Info Buku - Tuesday, 08 June 2010


Resensi
As Tears Dry Out:
Sabtu, 06 Februari 2010 20:39
Menguak Kisah dalam Makanan

Judul : As Tears Dry Out
Penulis : Nuthayla Anwar
Penerbit : Fayla Production
Tebal : 244 halaman
Terbit : November 2009
Peresensi : Anita Rachmad*


Barangkali, baru buku kumpulan cerpen berjudul As Tears Dry Out (hingga air mata mongering) saja yang muncul dengan packaging yang unik dan menarik minat membaca. Tidak seperti kumpulan cerpen pada umumnya yang hanya berisi cerpen dan mungkin tambahan kata pengantar dan penutup, kumpulan cerpen milik Nuthayla Anwar ini juga menambahkan 17 resep masakan dan kudapan.

Ide yang sangat orisinil. Sesuai judulnya, buku yang berisi 12 cerpen itu membawa pembaca pada kisah-kisah yang ringan dan tak perlu mengerutkan jidat untuk mencerna pesan/makna yang tersirat. Kisah yang mengharu biru dan memunculkan rasa istimewa dalam sanubari.

Semua begitu jelas dan runut. Kisah sederhana dan membumi. Saya yakin setiap pembaca pasti mengalami atau setidaknya pernah melihat atau merasakan kisah itu. Kalau saya bilang, hampir semua kisah dalam kumpulan cerpen ini ‘perempuan’ banget. Kisah yang bertutur dari hati dan sudut pandang perempuan karena memang penulisnya perempuan.

Namun demikian, dari kisah sederhana dan akrab dengan keseharian itu, mampu menghadirkan kejutan-kejutan yang kadang ironis dan menggelitik. Seperti dalam kisah Chatting. Aktifitas yang sangat akrab bagi sebagian orang yang rajin beranjangsana di dunia maya. Pasangan suami istri yang mulai kehilangan orientasi kehidupan berkeluarga lalu menjadikan chatting di internet sebagai katarsis hingga menciptakan ketergantungan dan rasa cinta semu.

Namun siapa sangka, pasangan itu saling jatuh cinta dalam identitas yang berbeda dan baru. Maka kopi darat dan pertemuan kencan itu mengakhiri identitas masing-masing yang nyatanya selama ini sudah hidup satu atap. Ironis dan menggelitik.

Atau pembaca akan diberi kejutan saat membaca Pavilliun. Kisah seorang istri di dalam sangkar emas dan tak dianggap oleh suaminya. Siapa yang mengira, di balik sifat sejuta kebaikan pada diri seorang istri, ibu dan perempuan kesabarannya pun terbatas. Dengan ikhlas dan gembira, ia meracun suaminya hingga tewas demi ‘menyelematkannya’ dari dosa lebih besar karena bisnis narkoba dan bermain perempuan.

Lalu kita juga akan dibawa terpesona dengan kepintaran Nuthayla dengan dua kisah personifikasi pada cerpen 69 dan Ketika Sepatu Berkisah. Bagaimana seekor anjing dan sepatu diperlakukan sebagai manusia. Benar-benar memanusiakan benda mati dan anjing. Kisah ini memberi gambaran, betapa hewan dan benda mati yang setiap hari berkeliaran dan dekat dengan kita sebenarnya adalah anggota keluarga yang harus diperlakukan seperti manusia.

Dia, sepatu dan anjing itu, mampu merasa dan merekam setiap detik kejadian yang ‘didengar dan dilihat’. Bagaimana sepatu merasa bagitu jijik dan geregetan melihat istri tuannya, bermulut nyinyir karena suaminya (si tuan) tak mampu memberi kehidupan seperti yang diinginkan istrinya. Sang sepatu pula yang menjadi teman serta saksi terakhir saat tuannya meninggal di tangga escalator usai membeli daftar belanja masakan istrinya yang nyinyir di rumah.
Lalu si anjing, betapa sempurnanya kisah ini diurai Nuthayla. Hewan ini memanggil Mama bagi perempuan yang merawatnya. Betapa itu menggambarkan pola kedekatan hubungan dan interaksi antara hewan dan manusia dalam keseharian.
Selebihnya, kisah-kisah yang dihadirkan dalam kumpulan cerpen ini adalah kisah sederhana dengan plot yang datar dan biasa. Kisah yang mengeksplorasi sisi kemanusiaan baik dari sudut pandang laki-laki dan perempuan. Kisah dari satu ruang ke ruang lain dan dari satu adegan pindah ke adegan lainnya.(*)

Nature vs Nurture
Memasak. Aktifitas yang secara nature sudah didedikasikan sebagai pekerjaan perempuan ini makin ditasbihkan penulisnya dalam semua cerpennya. Resep masakan yang tertulis di akhir kisah atau nama masakan yang ditulis dalam cerpen-cerpennya, menunjukkan bahwa itu adalah hasil olahan tangan perempuan.
Seolah itu menunjukkan betapa dekatnya hubungan perempuan dengan dapur dan makanan. Betapa dapur dan makanan bisa menjadi surga kecil bagi perempuan dalam kehidupan nyata. Betapa dapur dan perempuan merupakan salah satu property penting kehidupan perempuan.

Di sana air mata mengalir dan tumpah. Di sana dia bisa bebas mencincang daging derita hatinya, mengiris bawang kepedihan hidup dan mencuci sayur kehampaan. Betapa sebuah makanan bagi perempuan juga menjadi perlambang nostalgia dan menjadi monument dari lintasan waktu dan peristiwa.

Namun secara nurture, perempuan juga bisa memberontak menjadi makhluk yang tak terkendali akibat tekanan lingkungan dan kultur sekitarnya. Ia bisa membunuh dan berbuat di luar logika sebagai mahluk yang dicap lemah dan lembut.

Begitu pula nurture untuk laki-laki. Yang pada pergantian massa, akibat tekanan sosial dan mungkin hegemoni kekuasaan di sektor domestik atau tidak, bisa merubah perilaku bawaannya atau nature.

Namun sepertinya penulisnya memahami, bahwa tidak hanya perempuan saja yang dicap makhluk lemah dan lembut. Dalam empat cerpennya, sebagai ‘aku’ laki-laki juga ditunjukkan kisah laki-laki dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Juga ada air mata dan putus asa.

Sebuah opisisi biner yang memukai dan sempurna. Ada pasangan dengan suami bak iblis ada pula pasangan dengan istri bak setan. Ya, karena hidup selalu memiliki dan menyimpan pertentangan yang tak akan pernah tahu kapan akan terungkap dan berakhir.
Terakhir, saya mengira judul yang tertulis di sampul buku kumpulan cerpen ini adalah salah satu judul cerpen yang ditulis. Namun setelah saya bolak balik, tak saya temukan judul cerpen As Tears Dry Out. Hmm….rupanya judul itu menjadi wali bagi 12 kisah sederhana yang membekas ini.(*)

*Wartawan tinggal di Malang



[ 0 komentar
]

© 2002-2009 Kafemuslimah.com
Please report any bug to webmaster@kafemuslimah.com
All rights Reserved