Gaya SMS
SMS atau Short Message Service sudah merupakan alat komunikasi kita sehari-hari. Bahkan terkadang menjadi pilihan utama dibanding berbicara langsung. Di situasi tidak enak, lebih enak kirim sms : cepat, singkat, tidak perlu berpanjang-panjang karena si penerima pasti maklum. Jadi jika ingin membatalkan sesuatu di dalam waktu mepet, lebih ringkas dengan sms, menyelamatkan kita dari situasi tidak enak dan sungkan. Sama halnya dengan metoda komunikasi yang lain yang mempunyai keunikan sendiri-sendiri untuk tiap individu, gaya nge-sms pun unik untuk tiap-tiap orang. Kemarin ini sempat menganalisa gaya SMS orang serumah.
Ibu, tipe seniman
Entah karena apa, ibuku kalau mengirim sms selalu berusaha memformatnya sesuai dengan layar telepon genggamnya. Contohnya jika beliau ingin menuliskan “Ibu sedang memilih buah semangka”, maka ketika beliau akan menulis kata “memilih”. Beliau akan menyadari bahwa satu baris di hp beliau tidak cukup memuat keseluruhan kata”Ibu sedang memilih”. Maka beliau akan menghapus kata “memilih” kemudian menekan tompol spasi terus hingga sampai kepada baris berikutnya, barulah beliau memasukkan lagi kata memilih. Jadi tuh seperti ini:
Ibu sedang (spasi)…..(spasi)
memilih buah(spasi)….(spasi)
semangka.
Alhasil begitu sms dari ibuku diterima kadang suka bingung. Karena smsnya seperti terpotong, tapi begitu di scroll down ternyata ada sambungannya
. Hehehe. Padahal sudah berulangkali dijelaskan kalau ibu tulis saja apa adanya, nanti hp nya akan mengatur sendiri. Tapi ya itulah ibuku!
Ayah, tipe anti SMS
Ayahku sebenarnya sangat tidak suka sms. Beliau bilang terlalu lama. Karena beliau harus pakai kaca mata dulu, trus tombol hape yang relatif kecil agak menyulitkan. Maka dari itu jangan heran kalau sms dari ayahku biasanya tidak lebih dari tiga huruf yang isinya itu biasanya: “ya”, “gak”, atau “ok”. Jadi misalnya mengirimkan sms ke ayah yang isinya panjang dan penjelasan A sampai Z, ayah biasanya hanya jawab “ya”. Kadang gregetan aja gitu loh, ada 157 karakter yang masih bisa digunakan dengan gratis.
Bang Wen (kakak laki-laki) tipe: disingkat terussssss
Kakakku yang satu ini memang suka buat geleng-geleng kepala. Dalam hal per-SMS-an kakakku ini sudah mengalami sedikit perbaikan dalam etika ber sms. Ketika pertama kali zaman memakai HP, setiap sms kakakku selalu menggunakan huruf besar (capslock). Alasannya supaya lebih mudah dibaca. Setelah berulangkali diingatkan kalau capslock dalam bahasa tulisan itu artinya marah/berteriak, barulah kakkku mau mematikan capslock nya.
Tapi ternyata tidak sampai disitu saja perubahan gaya SMS kakakku. Sekarang ini kakakku hobi sekali menyingkat-nyingkat kata di SMS sampai kadang susah di mengerti.
Contohnya: suatu hari mendekati kepulanganku ke Indonesia, kakakku SMS menanyakan kapan aku pulang, yang kemudian aku jawab berikut waktu penerbanganku. Selang beberapa menit kemudian, masuklah sms kakakku yang isinya: “abg ttp lg”. Hanya tiga kata itu saja, aku bingung ini apa artinya. Abang tetap lagi? Maksudnya apa? Karena gak ngeh-ngeh juga, akhirnya aku tanyain ke teman yang kebetulan aku nginap disana. Sekitar setengah jam-an tidak ada yang tau artinya apa. Sampai akhirnya masuk salah seorang teman lain yang bilang: “Mungkin Abang TITIP lagi kaliiii”. Oh la la! Karena biasanya ttp itu merupakan singkatan dari tetap. Lagian masih ada 150 an karakter sisa kok mesti disingkat-singkat!
Bang An(kakak laki-laki) tipe: gak mau rugi
Kakakku yang satu ini sebenarnya bukan gaya penulisan di SMS nya yang menonjol. Tapi justru seringnya dia gonta-ganti nomor. Kakakku ini mungkin bisa ganti nomor setiap bulan. Tergantung promosi masing-masing kartu. Kalau misalnya saat ini Kartu As lagi promosi nomor baru + pulsa 50 ribu harganya 30 ribu misalnya. Maka bisa dipastikan kakakku akan berganti ke nomor As. Kalau bulan depan lagi promosi mentari, ya kakakku ganti kartu mentari. Pernah kutanyakan apakah tidak ribet ada banyak nomor telpon. Abangku hanya menjawab enteng, “ya enggak lah, gak usah dihafal aja nomornya kan gak ribet”. Nah Loh!
Bang Ki (kakak laki-laki) tipe: melankolis
Kakakku ini orangnya melankolis sekali. Kalau kirim SMS suka yang sangatttt perhatian. Bisa saja tiada hujan tiada petir kirim SMS nanya : “Adek apa kabarnya? semoga dilancarkan semua” Duh! seumur-umur ngomong sama aku secara langsung mana pernah seperti itu. Lagian siapa coba kakak-adik yang ngomong se formil itu hehe. Pernah sekali kuintip SMS beliau ke ibuku, ternyata isinya: “Ibu, kiki sayang Ibu”. Walah!
Bagaimana dengan kamu?
